Sebait Doa Buat Keluarga

Lirih suaranya sayup-sayup kudengar dari telepon genggamku. Mama berusaha ceria walau menahan sakit. Terkadang keluar juga keluhannya sambil merintih menahan sakit, “Sakit sekali nih. Masih terasa jahitan operasinya …”.

Aku yang mendengar tidak mampu berkata apa-apa. Hanya beberapa kalimat untuk membesarkan hati mama. “Maafkan anakmu ini yang tidak bisa menemani dan mendampingimu di kala sakit …”.

Kalau jauh begini maka terkadang tidak bisa menyesali diri jika mendapat berbagai kabar berita sedih mengenai keluarga yang ada di tanah air. Terkadang, berusaha memaklumi diri jika kabar itu datang belakangan beberapa hari atau bahkan setelah hal tersebut terjadi. Sempat terlintas dalam pikiran, “Koq tega ya aku tidak diberi kabar? Koq aku baru tahu ya?”

Hampir saja diri ini menyalahkan jarak, ruang, dan waktu. Ketika berjauhan maka kita tidak bisa bertemu. Berkomunikasi pun tidak mesti dilakukan setiap hari karena beberapa faktor. Kesibukan, perbedaan waktu, uang, dan juga masalah teknis lainnya menjadi faktor-faktor z lainnya.

Biasanya jika ada berita buruk seperti ada yang sakit atau yang masuk rumah sakit, keluarga di tanah air akan berusaha menutupinya. Mereka memilih diam karena khawatir. Tapi akhirnya ketahuan juga setelah kutanya.

Sama halnya ketika nenekku tercinta masuk rumah sakit bulan lalu. Tidak ada yang bercerita. Namun akhirnya cerita itu mengalir juga kalau nenek mengalami gejala stroke dan sedang rawat inap di rumah sakit. “Sedihnya …”.

“Takut ntar mengganggu konsentrasi”, begitu papa menjelaskan ketika waktu dulu aku juga baru tahu bahwa mama juga pernah masuk rumah sakit karena mengalami stroke ringan beberapa tahun yang lalu. Mungkin papa benar karena aku tinggal sendirian di negeri orang dan jauh dari sanak-famili. Tidak ada keluarga karib di tempat ini, kecuali teman-teman sekampus dan serumah.

Keluarga bisa jadi menjadi ujian berat ketika kita berada jauh dari mereka. Bagaimana tidak, keluarga adalah orang yang paling dekat karena ikatan darah.

Hanya keikhlasan, katanya yang menjadi jawab atas segala ujian dan cobaan yang ada, apalagi jika kita ketika tinggal berjauhan dengan sanak-famili. Di atas semua itu, aku meyakini ada hal yang paling bisa kita lakukan agar jalinan tersebut terus menyatu, yaitu dengan doa. “Kekuatan doa adalah segala-galanya”.

Memanjatkan doa-doa bagi kehidupan yang terbaik buat keluarga, termasuk, keselamatan, kesehatan, dan kebaikan buat keluarga menurutku saat ini adalah hal yang terbaik untuk dilakukan.

“Menangisi berbagai kesedihan yang ada hanya menghabiskan air mata”, hibur seorang teman. Tapi, airmata juga bisa sedikit mengobati kepedihan, minimal bisa sedikit menentramkan jiwa yang sedikit bergejolak karena sedih, walau airmata tidak dapat memecahkan masalah yang ada.

“Allah, jagalah senantiasa keluargaku yang jauh disana. Cintailah mereka sebagaimana aku mencintai-Mu, ya Allah. Amin …”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s