Tukang Sampah

Beberapa waktu yang lalu sebuah milis warga Indonesia di Inggris sempat heboh dengan berita tukang sampah yang ada di Indonesia. Bukan mengapa, hal ini karena yang memberitakan adalah media terkenal Inggris, yaitu BBC. Berita tersebut menjadi topik utama bahasan di harian utama tersebut. Berita selengkapnya, bisa dibaca disini.

Namanya media, tentunya yang diambil adalah berita yang sensasional. Sisi yang diangkat adalah masalah sampah yang ada di Indonesia. Terkuak sudah ternyata masalah sampah memang dianggap sepele dan agak diabaikan oleh semua orang, baik pemerintah maupun masyarakatnya sendiri.

Masalah sampah di Inggris menjadi suatu hal yang cukup diperhatikan. Setiap rumah pasti memiliki kotak sampah yang terbuat dari plastik yang ditandai dengan sampah recycle dan non-recycle. Sampah dibagi menjadi kategori menjadi sampah plastik, kertas, kaca/beling, karton, dan sampah kotoran biasa yang tidak bisa didaur ulang.

Setiap penduduk yang tinggal di Inggris wajib memperhatikan masalah sampah ini dan memisahkannya sedemikian rupa ke tempat yang telah disediakan. Jika tidak maka biasanya tukang sampah akan komplen dan ujung-ujungnya sampah kita tidak akan diangkut karena beberapa faktor. Misalnya, recycle dicampur aduk antara kertas dan plastik, sampah berserakan, tidak ditaruh ke dalam plastik atau kotak sampah dengan baik atau kotak sampah tidak ditaruh di depan rumah ketika waktu tukang sampah datang untuk mengangkutnya.

Masalah pengelolaan sampah di Inggris pun cukup baik. Jika kita memiliki barang-barang yang masih layak pakai namun kita tidak ingin menggunakannya lagi maka kita bisa memberi barang tersebut kepada charity yang ada atau membawanya langsung ke tempat recycle sampah. Di tempat tersebut akan ada banyak tempat khusus barang-barang, apakah terbuat dari kayu, kertas, plastik atau pakaian. Saya pernah sekali ke tempat ini diajak seorang teman yang ingin membuang kayu-kayu di rumahnya yang tidak terpakai lagi. cukup rapi penataan sampahnya. Tidak seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang ada di Indonesia yagn terkesan kumuh dan jorok.

Cuma yang saya perhatikan adalah terkadang masalah pemisahan sampah disini tidak terlalu ketat seperti di Taiwan. Dulu ketika saya di Taiwan, semua sampah harus dipisahkan, termasuk sampah makanan. Sampah berupa makanan atau organik yang langsung bisa dihancurkan oleh mikroba maka tempatnya tersendiri. Jika di suatu tong sampah bercampur-baur antara plastik dan kertas maka kita harus (dengan ikhlas) mengaduk-aduk sampah tersebut dan memisahkannya dengan baik dan sempurna. Kejadiannya sih pas di kampus, ketika Dean di kampus mengetahui bahwa sampahnya bermasalah maka beliau langsung memerintahkan stafnya untuk memisahkan sampah-sampah tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika tidak maka denda yang akan diberikan ke pihak kampus cukup besar. Kalau saya tidak salah sih sebesar $1,000 NT. Lumayan…

Balik lagi ke berita sampah di BBC. Selain mengenai sampah dan pengelolaannya, sisi lain yang diangkat adalah masalah tukang sampah sendiri atau kalau di Inggris disebut dengan istilah ‘binman’. Tukang sampah di Inggris, jauh lebih keren, kalau bisa dibilang jika dibandingkan dengan tukang sampah yang ada di Indonesia. Tukang sampah di Inggris akan datang ke setiap rumah pada jadwal tertentu (kalau di tempat saya, York, biasanya tiap hari Senin pukul sembilan pagi) dengan sebuah mobil khusus sampah. Tentunya hal ini sangat berbeda dengan tukang sampah di Indonesia yang berkeliling dari rumah ke rumah sambil menarik gerobaknya.

Belum lagi, si empunya rumah malah sok cuek dengan kehadiran tukang sampah sehingga tukang sampah kudu gedar-gedor pintu pagarnya terlebih dahulu baru deh si empu keluar untuk memberikan sampahnya. Di Inggris, jangan harap digedor. Jika tidak meletakkan sampahnya di depan rumah sesuai dengan jadwal yang ada maka jangan sedih jika sampah di depan rumah walaupun terletak di halaman akan tetap tertumpuk rapi sebagaimana adanya.

Sedihnya, tukang sampah di Indonesia harus menarik gerobaknya yang banyak dan bertumpuk tersebut dengan tenaga dia sendiri alias menggunakan kekuatan otot. Lebih sedih lagi, ternyata gaji tukang sampah tersebut sangat rendah dan malah kadang tidak dianggap.

Untuk semua warga Indonesia, terutama yang membaca tulisan saya ini, saya himbau untuk memperhatikan masalah sampah ini. Pertama, buanglah sampah pada tempatnya. Jika belum ada tempat sampah, simpan dulu sampahnya, bisa di dalam kantong atau tas. Kedua, pisahkan sampah antara yang bisa didaur ulang dan tidak, organik dan non-organik. Kan bisa memudahkan tukang pulung sampah juga. Plus nambah pahala gitu. Apalagi, sampah organik bisa dibuat pupuk buat tanaman. Ketiga, hargai tukang sampah yang ada di rumah. Lihat jadwal kehadirannya. Letakkan sampah tersebut ke dalam plastik biar memudahkan tukang sampah untuk mengangkut ke dalam baknya. Ingat, masalah sampah kan bukan hanya tanggung jawab tukang sampah semata. Justeru tukang sampah sebenarnya hanya membantu kita membersihkan sampah. Terakhir, jagalah kebersihan yang ada. Jika ada sampah di depan mata, segera diambil dan buang ke tempat sampah. Mulai dari diri sendiri lebih baik dan lebih mudah sekaligus bisa memberikan contoh kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s