Kemampuan Manusia Terbatas

Aku sadar, kemampuan manusia sangat terbatas. Senin yang lalu aku mengikuti sebuah eksperimen yang diadakan oleh seorang mahasiswa PhD di kampus psikologi. Judulnya tentang ‘Music Perception’. Sepintas dari judulnya memang ditujukan bagi mereka yang ‘ahli’ musik. Tapi tidak juga. Bagi yang suka musik juga diperbolehkan ikut. Makanya aku memberanikan diri mendaftar dan mengikuti eksperimen ini sebagai pengisi waktu luang dan juga memfungsikan kendali otak kanan. Biar seimbang dengan otak kiri yang sering digunakan. Halahhh …!

Sebenarnya eksperimen ‘Music Perception’ ini bukan yang pertama. Yang ke-empat sepertinya deh. Kecanduan musik dan bunyi-bunyian ternyata. Eksperimen sebelum-sebelumnya cukup mengandalkan indera pendengaran. Berbagai bunyi-bunyian mulai dari nada, irama, suara, intonasi, volume, jenis alat musik, dll. Pusing juga sih membedakan dan mencari persamaan antara nada dari jenis musik yang berbeda.

Eksperimen yang terakhir ini ada tiga macam. Yang pertama adalah mencari gap dan tidak perlu menggunakan earphone untuk mendengarkan suara. Cukup melihat potongan-potongan gambar yang ada di layar komputer. Kemudian tinggal menebak kira-kira potongan gambar mana yang hilang dan pas untuk gambar berikutnya.

Eksperimen yang kedua baru menggunakan earphone. Pada tahap ini peserta diharuskan mendengar empat macam jenis bunyian dan kemudian menebak yang mana yang memiliki dua ketukan. Semakin lama bunyi suara semakin pelan sehingga kita harus berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan bunyi-bunyian tersebut.

Eksperimen yang ketiga menuliskan angka yang disebutkan dan kita dengarkan melalui earphone. Bagian pertama cuma satu angka. “It’s easy peasy!!” Bagian kedua dua angka. “It’s very easy”. Bagian ketiga tiga angka. “It’s still very easy”. Bagian keempat empat deret angka dan masih sangat mudah. Bagian kelima adalah lima deret angka. “It’s not that bad”. Bagian keenam adalah enam deret angka. “I am fine with it”. Bagian ketujuh dengan tujuh deret angka, masih oke. Bagian kedelapan dengan delapan deret angka … agak keder. Bagian terakhir dengan sembilan deret angka. Asli, pusing!

Kemudian di eksperimen ketiga ini bagian selanjutnya adalah reverse angka. Haha.. Jadi ingat zaman es-em-pe dan es-em-a dulu adalah sering membolak-balik tulisan ketika mengobrol dengan teman dekat. “Kode-kode rahasia”, begitu candaan kita.

Eksperimen, ini mengingatkanku akan kenangan manis dahulu kala๐Ÿ™‚. Cuma bedanya yang direverse sekarang adalah angka, bukan huruf. Angka dengan deret satu sampai tujuh masih pretty easy untuk dibolak-balik. Tapi selanjutnya deret delapan dan sembilan, hampir give up, walaupun semua jawaban kuisi dengan baik ^_^.

Kesimpulannya? Pendengaranku masih sangat baik dan tajam, alhamdulillah …๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s