In Memoriam of Ratu

Bella sekarang sendirian. Kesepian setelah ditinggal pergi Ratu. Sepertinya kemarin dia agak trauma mengetahui bahwa Ratu telah pergi untuk selamanya.

“Bella didn’t want to come to the house for several hours …”, jelas Natasha kepadaku setelah dia memperlihatkan jasad Ratu di hadapan Bella. Tampaknya Bella mengerti dan sangat terpukul. Dia hanya mengendus-endus jasad Ratu dan terkadang menghampiri kuburan Ratu. Ia akan duduk di dekat kuburannya. Entah apa yang sedang dipikirkan Bella. Mungkin, ia mengenang saat-saat bersama Ratu. Kenangan yang begitu indah dan dalam …

Aku sangat hafal kebiasaan Bella. Biasanya jika Ratu berada di dekatnya maka ia akan segera bercanda dengan Ratu, menjilati sekujur tubuh Ratu, mencium hidungnya, dan bermain-main dengan ekornya. Kadang juga bercandanya keterlaluan. Ratu terkadang menggigiti kaki atau tubuh Bella dan mengajak Bella berkejar-kejaran.

Yang paling lucu adalah mereka saling mengambil makanan. Padahal, masing-masing sudah mendapatkan jatahnya di tempat makanan yang telah tersedia.

Aku masih ingat, setiap pagi biasanya keheningan selalu pecah oleh suara cempreng Ratu. Ratu dengan suara khasnya merengek-rengek. Ia akan berada di depan kamar, membangunkanku, Tasha dan the Three Kids (Shaz, Sumi, dan Zoya). Kalau kami sudah bangun maka ia akan mengekori kami kemana pun kami melangkah. Seringnya sih kaki yang menjadi sasaran. Dijilati, atau sekedar dielus-elus oleh Ratu.

Kami sudah hafal gelagat Ratu. Ia lapar. Kami pun akan memberikan makan buatnya. Tapi apa yang terjadi? Makanan tersebut tidak disentuhnya sama sekali. Ia tetap merengek seperti anak kecil. Terkadang kami semua dibuatnya kesal.

“What do you want, Ratu? I have given you some food …” kesalku.

Kalau sudah begini, Ratu akan diam seketika. Makhluk berkumis hitam belang putih ini seakan mengerti kalau majikannya lagi kesal kepadanya. Jurus ampuh tersebut selalu kami gunakan untuk membuatnya diam. Ya, berdialog kerap aku, Tasha, atau tiga gadis di rumah, lakukan kepada Ratu maupun Bella.

Iseng-iseng Tasha mencari sebab kenapa Ratu bersikap demikian. Ah, ternyata, menurut info dari Mbah Google, ia sebenarnya cuma ingin mencari perhatian. Mungkin karena ia masih terlalu kecil, tidak seperti Bella yang sudah mandiri dan besar.

Tutu … Tutu … alias Ratu membuat kami sangat kehilangan. Oh ya, nama sebenarnya sih Tutu. Tapi Tasha and the kids lebih suka menamakannya Ratu.

“Ratu is Indonesian language”, kataku pada Tasha. “It is queen in English”, kataku lagi.

“Ratu in Fijian language means chief”, jelas Tasha tak mau kalah.

Sedih ditinggal ratu. She is so cute, you know. Anak-anak pada shock kemarin mengetahui bahwa Ratu pergi untuk selamanya. Hari kemarin merupakan hari berkabung untuk kami semua. Tasha menangis sedih. Shaz juga menangis, tapi mencoba melupakan Ratu. Sumi juga menangis, sampai setengah jam lamanya. Yang paling sedih adalah Zoya. Dia menangis seharian sampai matanya sembab. Tadi pagi matanya juga masih sembab, padahal, dia harus ke sekolah.

Tangisan pun mengiringi pemakaman Ratu. Ratu dikuburkan di dekat rumah, akhirnya. Aku berduka. Sayang, aku tidak ikut menghadiri pemakamannya karena seharian sibuk di kantor. Aku juga ikut bersedih. He is such a cute baby …

Good bye Ratu … may you rest in peace …

Bella dan Ratu

*cerita seru tentang Bella, kapan-kapan aja ya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s