Selfish

‘Asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadurrasulullah..’. Dua kalimat ini cukup menjadi saksi bahwa kita telah mengucapkan suatu ikatan janji di hadapan Allah Izzati dalam mengarungi pelbagai polemik. Ikrar suci yang telah diucapkan tersebut tentunya menuntut sebuah konsekuensi, yakni sebuah bukti nyata akan sebuah janji. Benarlah jika kemudian akan banyak pengorbanan yang diberikan sebagai wujud pelaksanaannya.

Kalaulah bukan karena ikatan cinta maka tak akan pernah terluangkan waktu sibuk, tenaga berpayah-payah, dan juga uang infaq untuk meninggikan la ilaha ilallah di bawah langit. Kalaulah bukan karena mengharap buah dari ikrar tersebut, yakni mereguk kebahagiaan sejati kenikmatan ukhrawi, maka takkan ada yang rela mengambil jatah-jatah kehidupan duniawi tersebut.

Maka dakwah dan Islam memang pantas menuntut banyak halnya darinya yang telah memegang teguh janji suci. Seperti Kaum Anshar yang ketika diseru untuk berdakwah dan berjihad di jalan-Nya, bahkan ketika semua orang lari dari seruan kekasih-Nya tercinta, Rasulullah saw, mereka segera menyambut seruan tersebut dengan lantang dan menjawab ‘labbaik..!’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s