Kesetiaan

Kalau ingin belajar tentang kata setia, maka aku harus berkaca pada sosok nenekku yang sekarang sudah tidak muda lagi. Bagiku sosok nenek sangat mewakili hal ini. Bagaimana tidak, nenek adalah seorang ibu dengan sebelas orang anak dan dua orang di antaranya adalah kembar. Nenek ditinggal kakek ketika anak-anaknya yang banyak itu sebagiannya masih sangat kecil. Menurut mama, kakek meninggal ketika usia tanteku masih es-de. Waktu itu sih mama sudah besar jadi gak terlalu masalah. Hidup sendirian tanpa seorang laki-laki yang biasa mendampingi dan membantu kehidupan sehari-hari adalah hal yang sangat tidak mudah. Realita pahit yang harus dihadapi apalagi dengan jumlah bilangan anak yang tidak sedikit.

Sepeninggal kakek, aku yakin usia nenek tidak tua-tua banget dan masih layak kalau seandainya beliau ingin mencari pengganti kakek untuk mendampingi hidupnya ke depan dan menghidupi anak-anaknya yang banyak itu. Tapi nenek berbeda. Beliau lebih memilih untuk setia dengan cintanya kepada kakek dan berusaha menghidupi anak-anaknya yang banyak itu dengan caranya sendiri.

Sepeninggal kakek, nenek hidup dari uang pensiunan. Terkadang nenek juga menjual beberapa aset peninggalan kekayaan kakek dan juga orang tuanya hanya untuk membiayai anak-anaknya yang banyak. Semua anaknya sekolahan, bahkan sampai ke universitas. Tidak ada yang terlantar walaupun kehidupan sepeninggal kakek sangat berbeda. Mungkin dulunya terbiasa hidup bahagia dengan segala kebutuhan yang terpenuhi. Maklumlah, untuk ukuran zaman dahulu kala, kehidupan nenek dan kakek terbilang sangat berkecukupan. Namun sepeninggal kakek, nenek harus sedikit merubah gaya hidupnya dan juga anak-anaknya. Mama yang terbiasa hidup berkecukupan harus bersabar dan lebih banyak bersyukur juga. Pernah katanya waktu zaman itu nenek sekeluarga mengalami kekurangan bahan pangan karena terjadi krisis pangan. Tapi, hal itu tidak berpengaruh sedikit pun pada kesetiaan cintanya pada kakek. Kalau beliau mau maka hal tersebut sangat mudah baginya.

Sepeninggal kakek, aku tahu ada serpihan kerinduan yang mengisi relung-relung hati nenek. Setiap pergi ziarah ke makam kakek di pemakaman pahlawan di daerah dekat rumah nenek, aku tahu, mata nenek selalu merah basah dengan air mata. Mungkin nenek masih menyimpan begitu banyak kenangan dengan kakek sewaktu mudanya. Tapi nenek tetap pada pendiriannya, tak bergeming. Tak sedikit pun terbersit rasa yang lain untuk mengingkari janji setia yang telah diucapkan dahulu di hadapan penghulu walaupun hal ini halal dilakukan. Sekali lagi nenek tetap memilih untuk setia.

Setia adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dalam prakteknya karena banyak hal yang bisa jadi dikorbankan. Banyak orang memiliki sudut pandang berbeda tentang kata setia. Tapi bagiku setia mewakili bentuk cinta, penjagaan terhadap rasa yang ada. Tidak banyak mungkin yang bisa memiliki sifat ini karena hal ini tidak mudah. Apalagi di tengah situasi sekarang yang sangat banyak godaan, siapa yang bisa mengukur kesetiaan yang ada? Kesetiaan tidak butuh kata verbal, tapi butuh realisasi dan juga pengorbanan.

Big Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s