Turning Point

Waktu, tempat, dan lingkungan adalah tiga faktor besar yang bisa jadi mempengaruhi sejarah perjalanan hidup seseorang. Seiring dengan waktu, cepat atau lambat biasanya orang akan bisa berubah pikiran, apalagi ditambah dengan pengaruh orang-orang di sekitar kita.

Sejak kecil, misalnya, kita bercita-cita menjadi seorang insinyur. Namun seiring perjalanan waktu ketika es-em-a kemudian kita memutuskan untuk memilih jurusan sosial karena ternyata tidak suka dengan pelajaran fisika karena gurunya yang galak. Kemudian setelah tamat es-em-a dan kemudian ikut UMPTN akhirnya keterima di jurusan politik karena gagal menembus pilihan pertama di fakultas ekonomi seperti rencana awal. Walhasil, mau-tidak-mau terpaksa menjalani hidupnya dengan kuliah di Fakultas Sosial dan Politik. Well, mungkin saat itu kita berpikir, apakah saya akan menjadi seorang politisi atau tidak? Kita hanya menjalani saja, mengalir seiring dengan waktu. Ada juga yang biasanya mencoba ikut ujian lagi sampai keterima di jurusan yang dicita-citakan. Tapi kemudian cita-cita tersebut tidaklah berjalan semulus yang direncanakan. Setelah tamat kuliah, sebagian besar mahasiswa kemudian berpikir tentang dunia kerja. Lantas, ramai-ramai melamar pekerjaan ke berbagai tempat sehingga akhirnya keterima sebagai guru PNS dan melupakan cita-cita yang menjadi mimpinya sejak kecil.

***

Aku sendiri misalnya, sejak kecil memiliki cita-cita yang banyak dan selalu berubah-ubah. Pertama pingin jadi guru karena guru di sekolah baik sekali. ‘Aku ingin jadi seperti Bu Mar’, kataku suatu hari kepada mama. Alasannya tidak ada melainkan karena melihat sosok Bu Mar yang sangat baik. Lain waktu ketika sudah beranjak besar sedikit, cita-cita tersebut berubah. ‘..pingin jadi dokter..’, jawabku kalau ada yang bertanya tentang cita-citaku. Ketika sudah agak gede lagi dan waktu itu aku suka membantu mama yang hobi menanam bunga-bunga. Mendadak cita-cita berubah menjadi seorang insinyur pertanian.

Ternyata, seiring dengan waktu, cita-cita tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Hehe.. Setamat es-em-a, aku ikut UMPTN dan ternyata keterima di fakultas Geografi, which is gak disangka-sangka🙂. Sampe babe kelabakan karena anak kesayangannya akan pergi jauh menyeberangi pulau. Pernah suatu hari beliau bertanya, ‘Bisa gak kira-kira ditukar saja kampusnya yang lebih dekat?’

Seiring dengan waktu, mulai menyelami ke-geografian dan berusaha mencintainya. Well, ternyata enjoy juga soalnya sering jalan-jalan ke pantai, gunung, gua, hutan, dkk. Setiap ke lapangan, aku mulai mencari sesuatu yang membuatku ‘cinta’ dengan duniaku pada waktu itu. Mulailah aku rajin mengumpulkan berbagai jenis batuan dari berbagai tempat yang kusinggahi ketika ada praktek kerja lapangan. Mencari hobi baru, istilahnya.

Tapi ternyata, seiring dengan waktu juga dan hasil perenungan dan pencarian, akhirnya aku mengambil keputusan untuk meninggalkan hobi lama tersebut karena sepertinya jiwaku tidak menyatu dengan geografi walaupun sangat senang bermain-main dengan alam, terutama outbond. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku pun memutuskan untuk banting setir dengan menekuni dunia usaha dan bisnis. Alhamdulillah masih terdampar sampai sekarang di dunia per-manajemenan inovasi bisnis dan mencoba menekuninya dengan baik.

***

Selanjutnya adalah tempat. Seseorang yang sudah lama tinggal di luar negeri dan sudah bekerja mapan bisa jadi pada akhirnya memilih untuk pulang ke tanah air dengan berbagai pertimbangan. Walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki pekerjaan yang pasti setelah tiba di tanah air nanti. Pilihan terakhir biasanya adalah memutuskan untuk membuka usaha saja dengan berwiraswasta dan mencoba menciptakan lapangan kerja baru buat orang lain.

Terakhir, lingkungan. Ada banyak hal dalam lingkungan ini yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup seseorang. Teman atau orang lain adalah faktor terbesar yang bisa merubah hal ini. Bisa jadi kita terinspirasi oleh seseorang dan terkesan dengannya hingga akhirnya kita memilih untuk menjadi seperti dia.

Saya yakin setiap peran yang dilakoni oleh manusia adalah berdasarkan hasil perjalanan waktu dalam hidupnya. Terkadang kita memutuskan sesuatu karena dipaksa atau terpaksa dengan keadaan. Tapi, kemudian kita berpikir ulang untuk memilih hal-hal lainnya karena beberapa faktor. Begitulah, setiap dari kita pasti akan berpikir keras untuk membuat keputusan-keputusan besar dalam hidupnya yang bisa jadi berubah karena beberapa hal atau kejadian yang kita alami di dalam hidup ini. Terkadang, sesuatu tersebut datang begitu saja tanpa kita rencanakan.

***

Cerita di bawah ini adalah hasil dari mengikuti sebuah workshop di kampus tentang Qualitative Research. Aku cukup terkesima dengan penyampaian Professor Ian Shaw yang bisa menarik hadirin sehingga bisa ‘klik’ dan memahami tentang materi yang disampaikannya. Narrative and Thematic Analysis ternyata tidak mudah untuk dipelajari. Dalam narrative analysis, seorang peneliti diharuskan memahami setiap alur cerita yang ada. Ya, makna di balik cerita yang sangat tidak tersirat dalam setiap kata dan baris kalimatnya..

Silahkan menyimak lebih lanjut cerita di bawah ini yang pada intinya menggambarkan bagaimana proses seseorang di dalam mengambil keputusan dalam memilih jalan hidup selanjutnya. He is talking the turning point in his life..

‘It was decided I should go to the University of Nebraska in Lincoln. Quite by accident this proved to be a turning point in my life.

The important event was not playing in a very good band, which kept alive my earlier interest in music as a vocation. It certainly was not working 35 hours a week as a waiter in a restaurant. It was the course in beginning Sociology with George E. Howard. Someone had said I ought to take course in Sociology. I asked ”What is that?” My advisor dud bit clarify the matter, but I decided to take a chance. The text was Deeley and Ward, A Textbook of Sociology, a rather dull summary of Ward’s Dynamic Sociology and Pure Sociology. This migh easily have driven me away from Sociology, but Professor Howard was a brilliant lecturer and immediately aroused my interest. He not only interpreted Ward, but he told us about other sociologists, mostly American, what they were doing, where they were teaching, and how he rated them. He said one day that by all odds the best place to study Sociology in the world was at the University if Chicago. So in the course of one semester I made up my mind to be a sociologist and to attend the University of Chicago, if this could possibly be arranged.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s