Menuntut Hak

Salah satu hal yang paling kupelajari dari teman-teman disini adalah bagaimana pandai menuntuk hak jika kita merasa bahwa hal tersebut adalah memang hak kita. Berbeda dengan kebiasaan orang timur pada umumnya yang seringkali terbawa kemana-mana, terlalu low profile tidak pada tempatnya.  Atau karena tidak mau terlalu memperpanjang masalah? Sehingga terkadang ketika dizalimi kita diam saja atau tidak berani protes.

Seperti beberapa hari yang lalu misalnya tiba-tiba saja pihak sekolah secara sepihak ingin memindahkan ruangan para mahasiswa PhD ke ruangan di lantai bawah which is too noisy karena berdekatan dengan pintu masuk dan ruang-ruang kelas. Lantai bawah adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa sehingga tidak terlalu kondusif untuk para mahasiswa yang sedang berkutat dan berpikir keras tentang risetnya.

Akhirnya, protes keras pun dilayangkan kepada pihak sekolah. Pertama-tama melalui perwakilan mahasiswa yang ada. Cara ini ternyata kurang efektif karena tidak berhasil menekan pihak sekolah. Kemudian teman saya yang menjadi representative student mencoba menggalang kekuatan dari teman-teman mahasiswa PhD yang ada. Diskusi-diskusi pun mengalir deras melalui email-email yang dikirimkan ke akun pribadi masing-masing. Well, namanya juga diskusi pasti ada pro dan kontra. Diskusi menjadi alot dan sangat hangat. Tetapi setidaknya ada banyak masukan mengenai bagaimana langkah-langkah yang seharusnya diambil ke depannya untuk mengatasi masalah ini agar didapatkan solusi terbaik.

Akhirnya sebuah pertemuan pun digelar antara pihak sekolah dan perwakilan mahasiswa. Beberapa mahasiswa pun mendatangi ruangan kepala sekolah untuk mengajukan tuntutan dan keberatan mereka atas keputusan yang telah akan diambil ke depannya tanpa pelibatan mahasiswa di dalamnya. Protes diterima karena berbagai alasan dikemukakan dengan tajam kepada kepala sekolah tersebut. Kepala sekolah pun akhirnya mengirimkan sebuah surat elektronik kepada pimpinannya mengenai sikap menolak anak-anak didiknya.

Namun sepertinya tekanan tersebut belum berhasil sangat. Langkah berikutnya akhirnya digalang sebuah petisi yang ditandatangani oleh sebanyak 24 orang mahasiswa PhD. Surat petisi berisi detil penjelasan penolakan serta beberapa peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah untuk menunjang keberhasilan studi mahasiswa PhD. Petisi ini sepertinya ampuh untuk menekan ‘penguasa’ yang ada karena mendapatkan dukungan hampir separuh dari jumlah total mahasiswa PhD yang ada di sekolah ini.

Alhamdulillah, petisi berhasil dan membuahkan hasil. Pihak sekolah pun akhirnya tidak jadi mengambil alih ruangan tersebut. Tapi, tetap ada kompromi. Komprominya adalah pihak sekolah akan menggunakan ruangan common room yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk dan makan-makan para mahasiswa dan sebagian kecil ruangan yang dipergunakan oleh mahasiswa PhD. Bagaimanapun kita bisa menerima kompromi ini selagi hal tersebut tidak merugikan para mahasiswa sama sekali dan masing-masing pihak merasa lega. Tentunya kompromi merupakan jalan tengah untuk mencari kesepakatan dan solusi terbaik dari suatu permasalahan.

York, di tengah-tengah petisi teman-teman terhadap hak-haknya yang tertindas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s