Mengalir bersama air

Berkali-kali ditumpahkannya rasa kesal itu kepadaku. Ini adalah hal kesekian ku mendengar keluh kesahnya yang tak berujung. Bukan aku tak ingin mendengarkan dan bukan pula tak bersimpati atas persoalan yang kau hadapi, melainkan aku pun tak tahu harus berbuat apa. Seandainya saja kau tahu, mungkin, persoalan hidup yang kuhadapi sungguh jauh lebih banyak dan rumit darimu.

Aku tahu, tinggal terpisah dari keluarga dan handai taulan adalah hal berat. Apalagi dirimu harus berpisah dengan suami dan ketiga anakmu yang masih kecil-kecil. Tapi, ini adalah sebuah konsekuensi dari sebuah pilihan di antara banyak pilihan yang pasti sudah kau renungkan jauh-jauh hari.

Aku tahu pasti, sudah banyak ruang diskusi yang terjadi. Tapi, bukankah kita telah memilih? Bagiku, harusnya tak ada penyesalan di kemudian hari. Jika ada kerikil-kerikil dan duri-duri di antara jalan-jalan setapak yang kita lalui maka kita harus lebih hati-hati agar tidak tergelincir atau tertusuk duri. Sama halnya seperti saat ini, jika kau menemui masalah maka hadapi saja. Begitu guru es-em-pe ku pernah memberi nasihat. Karena kau tahu, setiap orang hidup pasti memiliki masalah. ‘Jika tidak ingin ada masalah menerpamu, maka dunia bukan tempatmu’, kata guruku tersebut.

***

Kali ini kutatap wajahnya lekat-lekat sambil berpikir jalan terbaik. Kusodorkan selembar kertas putih padanya dan kuminta ia menuliskan berbagai persoalan yang dihadapinya. Satu per satu dituliskannya semua persoalan yang dihadapinya itu. Ada lebih dari sepuluh masalah besar yang saat ini sedang dihadapinya. Ya, dirinya sedang berkutat dengan polemik hidup. Lalu, kuminta ia melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

Jam di dinding telah menunjukkan pukul enam sore dan matahari pun sebentar lagi akan tenggelam. Saatnya aku harus beranjang pulang. Kubereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjaku. Kupencet tombol PC yang ada di hadapanku. Shut down.

‘It’s time to go, baby. It’s enough for today. InsyaAllah, we’ll meet again, darling. Ya, besok aku akan kembali lagi menemuimu’,  kataku sambil mengelus komputer kesayanganku itu. Walaupun benda mati, aku tahu, aku pun harus memperlakukannya sebaik-baiknya. We need to cooperate together well, my dear. Katanya, agar benda mati memiliki energi maka kita pun harus memancarkan energi tersebut sehingga masing-masing memiliki energi besar untuk menciptakan karya nyata. Ah, teori.. Yang penting sih kerja keras, ya? Tapi perlulah memperlakukannya dengan baik agar tidak lekas ‘sakit’. Kalau ‘sakit’ bisa sedikit mengancam kelancaran studiku juga soalnya.

Well, time runs so quickly. Saatnya pulang. Kuajak temanku tersebut pulang dan menyusuri jembatan, tempat biasa kami lalu pergi dan pulang. Jembatan kecil ini sudah tua tetapi pemandangan di sekelilingnya cukup indah. Di bawah jembatan tampak  jernih yang mengalir dengan begitu tenang. Danau buatan ini memang menyejukkan, apalagi di kala penat menghampirimu. Cukup palingkan wajahmu menghadap aliran air danau ini, maka sejenak kau akan merasakan kenyamanan. Rilekss..

Begitu sejuk pemandangan di sekitar tempat ini. Sekali-kali teriakan burung-burung, bebek-bebek, dan angsa memecah kesunyian. Irama melodi indah dengan sahut-sahutan mereka yang begitu riang bermain di dalam air. Pohon-pohon hijau nan rindang cukup menambah keasrian di sekitar tempat ini. Pantas saja jika banyak orang yang kadang duduk-duduk menghadap ke arah jembatan dan danau buatan ini. Ada yang hanya duduk merenung, ada yang sambil menikmati hidup dengan membaca buku atau menyantap makan siang mereka. Apalagi cuaca sangat mendukung hari ini. Sinar matahari yang terik membuat banyak orang keluar rumah dan berjemur di atas rerumputan atau di pekarangan rumah mereka.

‘Stop..!‘ kataku.

‘Kita perlu berhenti sebentar mbak‘, jelasku padanya. Lalu, aku memintanya untuk mengeluarkan kertas putih yang telah ditulisinya dengan banyak persoalan tadi. Tanpa banyak bertanya, diikutinya perintahku.

‘Lempar kertas itu ke dalam danau mbak.. lempar yang jauh..’ , perintahku ke mbak Nin.

Mbak Nin mengikuti saja instruksiku. Dikeluarkannya kertas yang sudah tak berbentuk rapi tersebut dari saku bajunya. Dan dilemparkannya kertas tersebut sekuat tenaga, hingga jauh menghilang di bawah jembatan bersama aliran air danau.

‘Biarkan ia hilang bersama aliran air di bawah jembatan sana..’ kataku padanya.

Kami hanya memandangi kertas tersebut dari jauh. Ia telah hilang bersama aliran air di bawah jembatan. Hilang..lenyap seketika dari pandangan..

‘Nah, sekarang masalahmu sudah selesai mbakyu. Mulai sekarang sudah tidak ada lagi masalah-masalah yang menghadapimu’, kataku mencoba menghibur.

Matanya mulai berkaca-kaca. ‘Ah, mbak Nin, jangan menangis. Airmata hanya membuatku dan dirimu bertambah sedih’, gumamku.

Tapi dengan kondisi begini, bukan caci maki atau nasihat yang dibutuhkannya. Kupeluk erat tubuhnya sambil berkata, ‘You would be fine, sis..’ kataku mencoba menghibur.

Matahari perlahan-lahan beranjak turun dari singgasana dan tampak jingga kemerah-merahan menghiasi langit mengiringi langkah-langkah kaki kami, meninggalkan semua permasalahan hidup. Pergi jauh bersama aliran air danau yang tenang. Biarlah hidup ini mengalir seperti air dan siap mencari ruang di antara celah-celah bebatuan..

***

Heslington, York: mengenang suatu hari bersama seorang saudara. Semoga kau masih mengingatnya, mbakyu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s