Mengambil pelajaran dari Nabi Nuh, a.s

Masih ingat dengan kisah Nabi Nuh? Ya, tentunya semua pada hafal dengan legendaris cerita kapal besar yang dibuat oleh Nuh dan para pengikutnya di tengah gurun pasir yang jauh dari sungai, laut dan tanpa tanda-tanda akan turun hujan dari langit. Nabi Nuh sendiri adalah nabi keempat setelah Nabi Adam, Syith, dan Idris. Nenek moyang nabi Nuh adalah orang-orang sholih dan Nabi Nuh sendiri adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam, a.s. Para pengikut Nuh sebenarnya sangat menghormati nenek moyang mereka yang sholih ini. Maka, dibuatlah patung-patung sebagai penghormatan namun sayang di kemudian hari patung-patung tersebut dijadikan sesembahan (Tuhan) mereka. Demikianlah kaum Nuh telah menjadi kufur dan sesat disebabkan kesalahan mereka. Dan Allah mengutus Nabi Nuh a.s untuk membawa ajaranNya dan meluruskan pemahaman yang keliru tersebut.

Salah satu keistimewaan Nabi Nuh, a.s adalah ia termasuk orang yang pandai bersyukur dan selalu mengingat nikmat yang diberikan oleh Allah swt kepadanya. Allah menyebutkan di salah satu suratnya: ..’sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur (QS. Al Isra: 3).

Maka, Nabi Nuh pun berdakwah kepada kaumnya siang dan malam untuk mengajak mereka menyembah Allah yang esa. Sayangnya, jumlah kaum mukminin tidak bertambah dari hari ke hari sehingga Nabi Nuh menjadi sedih. Kerap ia menghadapi kesombongan, kekufuran dan penentangan dari para pengikutnya. Setiap kali Nabi Nuh mengajak kaummnya maka setiap kali pula mereka lari darinya, seperti yang digambarkan di dalam Al Quran ‘Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyal menabah lmereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinaganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan keterlaluan. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru merek adengan cara yang terang-terangan, kemudian aku mernyer mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohon ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’ (QS Nuh: 5-12).

Namun, ternyata jawaban kaumnya sebaliknya seperti yang digambarkan di dalam Al Quran: ‘Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurkhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Mereka telah melakukan tipu-daya yang amat besar. Dan mereka berkata: ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali meninggalkan (penyembahan) wadd, suwa, yaghuts, yauq, dan nasr. Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia). Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang lalim itu kesesatan (QS. Nuh: 21-24).

Namun Nabi Nuh tidak berputus asa dan tetap menjaga harapannya selama 950 tahun agar kaumnya mengikuti ajarannya. Puncak pertentangan antara Nuh dan kaumnya adalah ketika para pengikutnya yang kafir menantang Nuh agar mendatangkan bukti nyata yang bisa membuat mereka percaya. Maka Allah swt menetapkan hukum-Nya atas orang-orang kafir dengan mendatangkan angin taufan dan hujan yang lebat. Allah swt memberitahu Nuh untuk membuat sebuah kapal yang besar.

Nabi Nuh pun mulai menanam pohon untuk membuat perahu darinya dan menunggu beberapa tahun untuk memotong apa yang ditanamnya dan mulai merakitnya. Orang-orang kafir yang lewat di depannya mengejek Nabi Nuh sebagai orang gila karena membuat kapal di tengah terik matahari, bahkan jauh dari air sungai dan air laut. Akhirnya, selesailah pembuatan kapal tersebut dan jadilah sebuah perahu yang besar, tinggi dan kuat. Kemudian Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk mengajak orang-orang mukmin untuk menaiki perahu tersebut dan dengan kekuasaanNya maka Allah mendatangkan hujan yang sangat deras yang belum pernah turun hujan seperti ini sebelumnya. Air tersebut semakin meninggi dan menenggelamkan orang-orang kafir, termasuk putra dan isteri Nabi Nuh sendiri. Perahu tersebut terus berlayar dengan mereka dalam ombak yang laksana gunung, hingga Allah memerintahkan agar air tersebut menjadi surut kembali.

***

Adapun hikmah di balik kisah Nabi Nuh adalah bahwasanya hubungan yang terjalin dalam Islam bukanlah berdasarkan ikatan darah melainkan karena ikatan aqidah atau persamaan kepercayaan. Selain itu, dalam berdakwah hendaknya kita bersabar seperti sabarnya seorang Nuh. Hidayah itu sesungguhnya milik Allah swt semata. Bisa jadi dalam berdakwah ada yang bisa menerima, tetapi banyak pula yang menolaknya bahkah memusuhi dakwah dan para pengikutnya.

wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s