Industri perfilman

Jermal, mungkin sebagian besar kita tahu dan telah menontonnya, adalah sebuah film yang mengangkat salah satu realita  kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia ‘ yang tinggal di daerah dermaga. Film yang dibintangi oleh Didi Petet ini sangat berkarakter, mungkin karena faktor akting yang hebat dari Didi Petet sendiri. Ceritanya sangat sederhana tentang kehidupan  sehari-hari masyarakat Indonesia. Sayangnya, film ini tidak berakhir sempurna, agak mengambang menurut saya karena  tidak ada penjelasan mengenai akhirnya. Mungkin, sutradara film ingin mengajak penonton untuk menebak dan menyimpulkan sendiri akhir ceritanya.

***

Industri perfilman yang ada di sebuah negara sesungguhnya menunjukkan tingkat kemajuan dari sebuah negara. Negara miskin atau berkembang cenderung membuat film yang masih menggambarkan tentang kehidupan masyarakatnya. Harus kuakui bahwasanya hal ini benar adanya karena sebagian besar film produksi Indonesia memang masih mengangkat sisi kehidupan sebagian besar masyarakatnya, sebagian besar bernuansa klenik dengan menampilkan sosok-sosok hantu buatan yang terkadang tidak masuk akal.

Berbeda dengan negara maju, misalnya Amerika, sebagian besar film yang diproduksi tidak lagi mengangkat tentang kehidupan masyarakatnya. Film-film produksi buatan Amerika sudah sangat maju, mengkolaborasi konsep ilmu pengetahuan dan teknologi ke dalam sebuah film. Sebut saja ‘jurrasic park’ yang menampilkan sosok hewan purba dinosaurus di zaman purba. Film ini sangat memukau penonton dan berhasil meraup keuntungan yang banyak. Film ini sebenarnya menggunakan alur yang sederhana namun karena kecanggihan sutradara dan crew film yang menggabungkan unsur-unsur  teknologi tinggi maka film ini menjadi sesuatu yang istimewa. Penonton tentu saja seolah dibawa ke zaman purba di mana ada banyak dinosaurus yang masih hidup.

Thus, industri perfilman yang ada di suatu negara sebenarnya berbanding lurus dengan kemajuan yang ada di negara tersebut. Negara miskin atau berkembang cenderung memproduksi film yang lebih mengedepankan nuansa kehidupan. Biasanya tema-tema yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh masalah keterbatasan dana untuk memproduksi film yang bagus dengan dukungan teknologi canggih. Sebaliknya, negara maju cenderung memproduksi film dengan menonjolkan kecanggihan teknologi seperti efek tiga dimensi. Walaupun film yang ditampilkan adalah khayalan namun karena pengemasannya yang menarik dengan didukung kecanggihan teknologi maka hasilnya menjadi menarik. Bahkan, hampir sebagian besar film yang diproduksi ke seluruh dunia adalah produksi Amerika. Avatar, contohnya, adalah film khayal tingkat tinggi yang mampu menyedot perhatian banyak penonton di seluruh dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s