Blend to the society

Rasis merupakan hal yang kerap terjadi di negeri Ratu Elizabeth ini. Perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam atau suku bangsa or etnik adalah beberapa hal penyebab terjadinya rasisme. Di Inggris, misalnya, banyak kaum pendatang yang notabene telah lama tinggal disini atau bahkan telah menjadi warga negara setempat. Namun, kaum pendatang ini sulit untuk diterima oleh masyarakat setempat dan diakui secara sosial sebagai bagian dari warga Inggris. Tetap saja, berbeda, baik penerimaan maupun perlakuan terhadap mereka. Ada banyak kasus yang terjadi mengenai rasisme ini, seperti pelecehan seksual, perbedaan status, perlakuan di lingkungan kerja, bahkan yang tragis adalah perlakuan yang mengarah ke bentuk kekerasan.

Apalagi hal ini ditambah dengan permasalahan internal negara Inggris sendiri, khusunya dalam perekonomian. Krisis ekonomi yang terjadi beberapa waktu yang lalu hingga sekarang menimbulkan masalah yang begitu kompleks. Banyak perusahaan yang akhirnya gulung tikar dan harus me’rumah’kan para karyawan mereka. Akhirnya, jumlah pengangguran meningkat tajam, sementara pertambahan devisa negara menurun dan pengeluaran membengkak. Negara, tentu saja, harus menanggung beban berat apalagi negara ini mempunyai aturan tersendiri bagi mereka yang menganggur yaitu berupa pemberian kompensasi bagi warga yang tidak (belum) bekerja (ibu rumah tangga yang tidak bekerja masuk dalam kategori ini) dan para orang tua (manula). Dengan adanya kebijakan ini di satu sisi menguntungkan bagi para pendatang yang tidak memiliki pekerjaan. Mereka akan mendapatkan uang dengan mudah dari pemerintah tanpa harus bekerja keras.

“Hal inilah yang menimbulkan kecemburuan sosial,” kata salah seorang temanku yang berasal dari Afrika namun telah menjadi warga negara Inggris. “They take the money from Inggris and bring them to their own countries..”, tambahnya lagi menegaskan. Bayangin saja bagaimana kecemburuan sosial itu tidak terjadi manakala kaum pendatang kehidupannya lebih mewah dibandingkan penduduk setempat. Misalnya mereka memiliki rumah yang lebih bagus dibandingkan rumah masyarakat asli Inggris sendiri. Atau posisi mereka di dunia kerja lebih baik daripada orang Inggris sendiri.

Untuk melindungi warga negaranya, tentu saja, pemerintah Inggris tidak tinggal diam terhadap permasalahan yang  ada. Salah satunya adalah kebijakan untuk membatasi jumlah pendatang ke negara bersangkutan. Misalnya, baru-baru ini saja, menteri Dalam Negeri Inggris, Alan Johnson, mengeluarkan peraturan yang memperketat aturan-aturan mengenai visa pelajar asing. Dalihnya adalah untuk mencegah masuknya para pekerja ilegal dan masalah keamanan. Apalagi, beberapa waktu yang lalu, seorang warga Nigeria mencoba melakukan peledakan pesawat Northwest Airlines. Akhirnya, para pendatang mendapat perlakuan yang berbeda dan semakin sulit posisinya.

Posisi sulit tersebut ditambah sulit lagi dengan belum menyatunya masyarakat pendatang dan masyarakat setempat karena perbedaan latar belakang dan budaya. Kaum imigran yang kebanyakan berasal dari Asia dan middle east, tentu saja memiliki perbedaan mencolok dalam banyak hal, seperti makanan, bahasa, kebiasaan dan adat-istiadat. Alhasil, yang terlihat adalah kaum pendatang membangun kebudayaan mereka sendiri-sendiri di negeri orang dan tidak mencoba untuk membaur bersama masyarakat yang ada. Nah, pembauran dengan masyarakat setempat ini sendiri sangatlah sulit. Walaupun masyarakat barat, termasuk Inggris, adalah masyarakat yang terbuka yang mampu menerima perbedaan yang ada, sifat individualisme mereka sangat tinggi. Hal ini berbeda dengan kebanyakan masyarakat yang berasal dari Asia ataupun middle east. Faktor ini pun menjadi penyebab lainnya untuk menyatukan perbedaan yang ada. Kaum pendatang, tentu saja, membawa adat dan kebiasaan dari negara mereka masing-masing. Sayangnya, mereka tidak mencoba untuk beradaptasi secara cepat dengan lingkungan yang ada. Akhirnya, perilaku mereka kerap menjadi sorotan oleh masyarakat setempat Inggris. Hal ini tentu saja merusak citra para pendatang di mata penduduk Inggris. Poin tambahan untuk kembali tidak menyukai warga pendatang.

Jadi, perlu diperhatikan jikalau kita berada di negeri orang adalah mencoba menghormati adat dan kebiasaan di negara dimana kita berada. “Mencoba membantu negara yang kita tempati, bukan malah sebaliknya, sehingga negara ini pun menjadi baik dan semakin maju..,” katanya menjelaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s