Jangan pernah puas, selalulah merasa bodoh (bag.2)

Suatu hari saya berkunjung ke Lancaster untuk mengikuti sebuah workshop yang diadakan oleh departemen Management School di Lancaster University tersebut. Pada kesempatan tersebut saya bertemu dan bertatap muka dengan teman-teman yang sedang menimba ilmu PhD dari berbagai universitas. Para intelektual dan peneliti ‘muda’ berkumpul dan berdiskusi di tempat ini. Kesempatan tersebut merupakan pengalaman baik buat saya untuk bertukar informasi dan pengalaman, serta riset yang tengah (dalam proses) dilakukan.

Ketika istirahat pagi untuk minum teh dan kopi, saya berkesempatan mengobrol dengan seorang bapak yang usianya tidak muda lagi. Tadinya saya mengira beliau adalah salah satu profesor yang akan mempresentasikan makalah atau berbagi pengalamannya di depan kelas. Apalagi, dia selalu mengambil kursi di depan untuk duduk dan mendengarkan materi workshop yang ada. Ternyata saya keliru. Bapak tersebut ternyata mahasiswa juga seperti saya, beliau mengambil program PhD dengan jalur paruh waktu (part time), berbeda dengan saya yang memilih untuk menjadi mahasiswa penuh waktu (full time).

Dia bercerita bahwa semua anaknya sudah besar-besar dan bahkan dia memiliki beberapa cucu. “Woowww..”, kontan saja waktu itu saya berceletuk.

“You are really great!” kataku yang kagum dengan semangatnya walaupun tak muda sepertiku.

Bayangpun! Dalam usianya yang tidak muda dan dalam kesibukannya yang luar biasa mengelola sebuah perusahaan dan keluarganya, beliau tidak pernah bosan dan malas untuk mencari ilmu. Mungkin ini yang dinamakan tawadhu dalam mencari ilmu, pikirku dalam hati.

“I should call you grandfather then..”, kataku berbasa-basi.*

“People often call me ‘Uncle Dani’ because I am older than them”, katanya ramah.

Obrolan kami semakin menarik saja. Bagiku, beliau memiliki pengalaman hidup luar biasa yang dapat kugali di tengah obrolan tersebut. Ia bercerita bahwa ia telah mendapat tujuh buah gelar master sebelum mengambil program PhD yang tengah dijalaninya sekarang.

“Amazing..You are very excellent, Uncle Dani”, kataku kagum.

“Saya mengambil tujuh gelar master dengan bidang yang berbeda-beda”, lanjutnya.

Mulutku tak henti-hentinya berdecak kagum, terus berpikir, sambil bersumpah serapah terhadap diri sendiri yang selalu merasa puas dengan keberhasilan yang kuperoleh. Bagaimana tidak, bagiku satu gelar master sudah cukup dan suatu hal yang luar biasa dalam catatan hidupku. Ternyata oh ternyata pikiranku keliru besar. Hari ini diriku merasa sangat kecil dan belum apa-apa. Ah, seharusnya tidak pernah ada kata puas dalam kamus mencari ilmu di dunia ini. Harusnya selalu merasa bodoh setiap harinya karena ilmu manusia sangat terbatas dibandingkan dengan ilmu Tuhan. “Stay hungry! Stay foolish, Hensi!”

*Di dalam berkomunikasi dan khususnya bisnis, basa-basi sangat diperlukan untuk memancing ketertarikan lawan bicara untuk berinteraksi lebih dekat dan terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s