Media, pornografi, dan anak (bag. 2)

Dalam sebuah presentasi tugas akhir di kelas ‘Business Ethic and Law’ di bawah bimbingan Dr. Jang Jung Chen, tahun lalu di salah satu universitas di Taiwan-dimana aku menimba ilmu sebelumnya- presentasiku mendapat apresiasi (baca: heboh) teman-teman sekelas yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Tajuk yang kuangkat pada waktu itu adalah ‘Legal Issues of Naked Capitalist on the Net’. Tema ini cukup menghebohkan dan menggelitik hadirin yang hadir, terutama mahasiswa yang kebanyakan berasal dari States. Setidaknya, tema yang kuangkat ini dapat membuka ‘mata’ dan cakrawala mereka tentang siapa sebenarnya yang menari di atas penderitaan (moralitas) sebagian besar orang, terutama anak-anak dan menikmati keuntungan besar di balik industri pornografi yang mereka buat.

Berdasarkan hasil pengamatan dan pencarianku melalui beberapa literatur dan kasus yang telah dan tengah terjadi, terutama di negeri sendiri, Indonesia tercinta, pornografi merupakan kasus yang selalu meningkat setiap tahunnya, baik di media maupun internet. Bahkan, pornografi telah menjadi hiburan berkelas dan ajang bisnis yang sukses dan meningkat pesat tiap tahunnya dengan kenaikan 40 persen sejak tahun 1997.

Menurut data dari Internet Filter Review (IFR, 2004), setiap detiknya, orang akan menghabiskan uang sebesar 3074.64 USD untuk pornografi. Bayangkan saja berapa keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan pornografi dalam setiap hitungan jam, hari, minggu, bulan, dan tahun? Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa industri ini demikian pesat berkembang dan sukses. Pertama, yang jelas karena ada yang membutuhkan, target marketnya jelas.. Ada konsumen yang terus-menerus menggunakan. Kedua, industri ini ditopang oleh teknik marketing yang sangat canggih dan mudah. Menurut Lane (2001), industri pornografi menggunakan fasilitas email spam yang bisa masuk ke dalam inbox setiap pengguna internet. Selain itu, orang dapat dengan mudah mengakses lewat fasilitas pay-per-click-ads yang tersedia di situs layanan. Jika situs pada bisnis internet tidak pernah berbagi dan bekerja sama dengan situs lainnya, maka industri pornografi di internet menggunakan fasilitas share traffic dengan website sejenis lainnya, sehingga pengguna (user) dapat mengakses alamat yang dimaksud dengan sangat mudah dan sangat cepat.

Secara umum, web pages pornografi sebagian besar dibuat oleh negara-negara maju. Amerika Serikat menempati posisi teratas, disusul oleh Jerman, dan United Kingdom. Walaupun web pages pornografi terbesar mayoritas dikuasai oleh negara-negara barat yang kapitalis, industri terbesar pornografi dikuasai oleh negara-negara Asia yang bermata sipit. Cina menempati posisi teratas sebagai industri pornografi terbesar di dunia. Hal ini wajar saja terjadi karena Cina merupakan raja bisnis manufaktur di dunia saat ini. Kemudian, urutan kedua dan ketiga ditempati oleh Korea Selatan dan Jepang. Lantas, pertanyaanya, negara mana yang menjadi konsumen terbesar bagi bisnis pornografi tersebut? Jawabnya tentu saja negara-negara berkembang dan terbelakang, seperti negara Afrika Selatan dan juga Indonesia. Menyedihkan sekali!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s