Memahami bahasa tubuh (bag. 2)

***

Seorang temanku pernah berujar, “Wanita itu adalah orang yang paling merugi jika dia menikah karena dia akan mengalami banyak penderitaan. Jika tidak karena mengharapkan pahala dan surganya, mungkin, kebanyakan wanita memilih untuk tidak menikah..”.  Subhanallah..

***

Sayangnya, kata Bu Elly, ada banyak hal yang kita lupakan dalam berkomunikasi antara laki-laki dan perempuan. Ada dua hal yang terlupakan, terutama ketika suami dan isteri berkomunikasi di dalam keluarga. Pertama adalah, bahasa tubuh. Seringkali, banyak orang yang melupakan bahasa ini karena kurangnya pemahaman seseorang terhadap hal ini, sehingga yang terjadi adalah kesalahpahaman terhadap suatu hal. Dalam banyak konteks, sudut pandang laki-laki dan perempuan atau suami dan isteri bisa jadi berbeda satu sama lain. “Jika tidak dikomunikasikan dengan baik, maka yang terjadi adalah ketidakharmonisan di dalam rumah tangga, kecekcokan, yang bisa berakhir dengan perceraian.

“I like the way my dad makes my mom’s smiling”, kata bu Elly ketika menerima sms dari anaknya yang kangen dari Indonesia. “Suami saya selalu pandai membuat saya untuk tersenyum dan tertawa, bahkan di depan anak-anak”, ceritanya. “Demikian juga saya, akan berusaha untuk membuatnya tersenyum. “Ketika dia menjemput saya, dari jauh saya akan melambaikan tangan sambil tersenyum lebar”, katanya, “walaupun suami saya terkadang diam saja dan tak tersenyum sedikitpun”, lanjutnya.

Bahasa tubuh merupakan hal penting untuk memahami perasaan dan jiwa seseorang. Lewat bahasa tubuh dan gerak-gerik seseorang, kita dapat mengetahui apa yang sedang dipikirkan dan dialaminya. Dalam memahami bahasa tubuh, maka hendaknya kita tidak menggunakan judgement yang dapat membuatnya kecewa. “Jangan bertanya kenapa!” kata Bu Elly “..karena hal tersebut membuat seseorang merasa terhakimi..”, lanjutnya. “Cobalah untuk mencari trik ‘pancingan’ pertanyaan yang membuat pasangan kita untuk terus bercerita sambil kita pikirkan mengenai pertanyaan atau ungkapan yang tepat buatnya”. Sulit memang. Tapi, harus dicoba, dilatih, dan dibiasakan agar kita dapat mendengar perasaan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s