Moderat dan bersahabat

dsc00101

Moderat dan bersahabat. Itulah kesan saya terhadap para profesor disini. Dulu, jauh sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi, hal yang terlintas di benakku tentang profesor adalah mereka yang sudah tua usianya, kepalanya botak, berkacamata tebal, dan agak kolot. Ternyata, perkiraanku seratus persen keliru. Para profesor yang kukenal disini ternyata masih berusia sangat muda, rata-rata 40 tahun-an. Mereka pun jauh dari kesan sebagai seorang teknokrat. Sangat bersahabat dan terbuka sekali.

 

Pernah dalam sebuah acara pesta penyambutan mahasiswa baru, semua profesor terlibat dalam kegiatan yang diadakan oleh para mahasiswa. Mereka ikut bernyanyi, menari dan bermain bersama para mahasiswa tersebut. Agak janggal juga melihatnya. So surprise gitchu lho. Jauuuh berbeda dengan apa yang kubayangkan selama ini. Ternyata mereka sangat berjiwa muda. Apa memang kultur yang berpengaruh dalam hal ini ya? Apalagi karena mereka memang berlatar belakang pendidikan di Amerika. Hmmm, sepertinya harus dibuat sebuah hipotesa untuk mendukung pernyataan-pernyataan ini. 

Mereka tidak malu dengan status yang menyandang mereka. Kesannya tidak ada jarak antara mahasiswa dan profesor. Suasana menjadi sangat akrab karena semua terlibat di dalamnya, ditambah juga oleh suasana yang diciptakan panitia dalam acara tersebut. Tapi, hal ini tetap tidak mengubah dan menghilangkan nilai-nilai keprofesionalan mereka dalam banyak hal, terutama dalam studi dan akademik. Mereka pun mampu menempatkan diri secara proporsional, mana saatnya untuk berakrab ria dan mana saatnya memang untuk mengatakan (tidak secara lisan), “Aku adalah gurumu dan engkau adalah muridku!!”.

Contoh di atas tentu saja dapat diambil hikmahnya. Bagaimana seseorang dapat menempatkan diri dalam banyak situasi dengan berbagai status yang diembannya. Pertama, harus pandai melihat momen. Mungkin, dalam suatu situasi kita akan dituntut menjadi seorang sahabat, orang tua, guru atau bahkan sebagai seorang syekh sekaligus. Kedua, proporsional. Artinya, kita tidak boleh terjebak oleh hal yang sangat berlebih-lebihan dalam banyak hal. Ketiga, profesional. Ini yang sangat sulit. Menjaga wibawa sehingga reputasi tidak turun adalah hal yang tidak mudah untuk dilakukan.

Note: pernah mendengar istilah formal leader and informal leader? katanya sih pemimpin yang baik itu bisa menggabungkan kedua unsur ini; melakukan pendekatan secara formal dan informal kepada bawahannya dengan baik. Dia dekat dengan bawahannya, tapi juga tegas dengan tugas-tugas yang ada. Cool!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s