Is leader born or made? (bag 2)

Menurut Reed Nelson -seorang profesor di bidang Organizational Behavior dan terkenal dengan risetnya tentang personality– kepemimpinan efektif itu terdiri dari tiga unsur, yaitu atribut (attribute), konteks (context), dan teknik (technique).

Pertama adalah atribut. Pertanyaan penting di dalam atribut adalah mengenai siapa diri kita sendiri (who you are). Kalau kita sudah menempatkan diri kita pada posisi yang seharusnya maka kita akan dapat mengambil peran sesuai dengan pertanyaan tersebut. Atribut ini sangat sulit diraih dan dirubah, makanya di dalam masyarakat kita (baca: Indonesia) sering terjadi pengkultusan terhadap sosok tertentu. Masyarakat sangat loyal terhadap seorang yang mereka anggap pemimpin dan memiliki nilai pengaruh di dalam kehidupan mereka. Makanya, sampai sekarang sosok Gus Dur masih merupakan sosok pemimpin bagi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), misalnya. Namun, atribut ini bersifat tahan lama (durable) dan memiliki potensi atau pengaruh yang sangat besar (potent). Dampaknya adalah setiap ada fatwa yang dikeluarkan oleh pemimpinnya, maka rakyatnya akan serta merta mengikuti karena pengaruhnya yang besar terhadap mereka.

Kedua, seorang pemimpin yang efektif harus memiliki teknik yang tepat di dalam memimpin. Artinya, program dan kegiatan-kegiatan rutin yang akan dijalankan hendaknya jelas sehingga target yang hendak dicapai pun jelas (what you do). Teknik ini sangat mudah untuk didapat atau dibuat, tetapi ia sangat dibatasi oleh berbagai situasi yang ada. Terkadang, di dalam situasi tertentu, tidak semua program yang telah direncankan di awal dapat terealisasi. Bisa jadi karena suatu situasi tertentu, program atau kegiatan tersebut berubah di tengah jalan. Maka, waktu dan lingkungan sangat berpengaruh dalam hal ini. Kontrol dan kendali hal tersebut ada pada sosok pemimpin yang ada.

Dan terakhir adalah konteks, di mana tempat terjadinya perkara (where you do). Konteks ini sangat mudah didiagnosa oleh seseorang, tetapi sulit untuk dirubah atau disesuaikan dengan karakter seseorang. Seorang pemimpin yang baik pandai menyesuaikan dirinya dengan situasi yang ada dan berkembang. Dia harus pandai membaca situasi yang terjadi di sekitarnya. Oleh sebab itu, kepekaan menjadi modal dasar dalam memimpin. Wajar kalau kemudian ada selentingan bahwa seorang pemimpin itu harus pandai membuka mata, telinga, dan juga hati. Ia harus pandai melihat berbagai situasi, mendengar berbagai info, menyaring semua hal tersebut dengan hati dan kemudian secara rasional mampu berpikir untuk mengambil tindakan seperlunya dan selanjutnya.

So, apakah pemimpin itu terlahir dengan sendirinya atau dibuat? Jawabannya bisa relatif, tergantung situasi dan kondisi, serta siapa yang akan melahirkan pemimpin itu sendiri karena pada dasarnya Tuhan telah menciptakan manusia ke bumi untuk menjadi pemimpin, minimal bagi dirnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s