Pengaruh industrialisasi terhadap perkembangan kriminalitas

Baru-baru ini kita saksikan beberapa peristiwa penembakan terhadap civitas akademisi di kampus di Amerika. Pelakunya tidak lain adalah salah seorang mahasiswa kampus itu sendiri. Korban yang berjatuhan tidaklah sedikit, bahkan beberapa mahasiswa tewas tertembak peluru yang ditembakkan secara membabi buta terhadap semua orang yang berada di kampus.

Entah apa yang sedang berada di dalam pikiran mahasiswa tersebut. Hanya sekedar mencari sensasi ataukah pengaruh dari lingkungan di sekitarnya sehingga menjadikannya demikian.

Sebuah teori sosial mengatakan bahwa perilaku seseorang itu terbentuk karena pengaruh lingkungan sekitarnya sejak kecil. Keluarga adalah lingkungan pertama di mana seorang anak akan dibentuk. Pola pikir seseorang akan dibentuk pada masa ini. Dalam sebuah lingkungan dimana industrialisasi berkembang dengan pesat dan menyebabkan bertambahnya tenaga buruh, terutama kaum wanita, maka menyebabkan fungsi pendidikan yang seharusnya dilakukan oleh kedua orang tua berubah. Pendidikan anak tidak lagi menjadi tanggung jawab kedua orang tua, baik ibu maupun ayahnya, tetapi institusilah yang akan bertanggung jawab terhadap hal itu. Dalam hal ini maka pengawasan terhadap segala perilaku anak akan sangat bergantung kepada institusi yang bersangkutan, termasuk tenaga pengajarnya. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, jika institusi tersebut baik dalam artian mampu memberikan pendidikan yang juga baik dan memenuhi segala aspek bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk pola pikirnya maka anak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Kedua, sebaliknya, jika institusi tersebut tidak mampu memenuhi segala aspek yang dibutuhkan bagi perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut, maka anak akan menjadi pribadi yang menyimpang. Hal ini ditambah lagi dengan pengaruh media, baik media massa maupun elektronik. Perilaku menyimpang seorang anak bisa jadi karena dia suka meniru apa yang telah dibaca atau ditontonnya di media tersebut. Karena tidak adanya pengawasan langsung dari orang tua terhadap hal tersebut, maka anak tidak bisa menyaring informasi yang telah diperolehnya dari media tersebut. Semua informasi yang diperolehnya akan dengan serta merta ditangkapnya dan bisa jadi hal tersebut kemudian mempengaruhi pola berpikirnya, apalagi jika hal tersebut tidak diimbangi dengan adanya pendidikan moral bagi anak itu sendiri. Akibatnya, anak akan bertingkah dan berperilaku seperti apa yang telah dibaca atau ditontonnya. Dia akan menjadi perilaku yang brutal, sehingga kriminalitas berupa intimidasi, kekerasan, atau perilaku menyimpang lainnya terhadap orang lain akan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s