
Balik lagi ke masalah anak, yang menjadi sasaran empuk pornografi melalui berbagai media komik, majalah, koran, film, permainan, dan lagu, yang telah dikemas sedemikian rupa seolah merupakan konsumsi anak-anak, padahal sesungguhnya tidak sama sekali.
Dalam sebuah presentasi tugas akhir di kelas ‘Business Ethic and Law’ di bawah bimbingan Dr. Jang Jung Chen, tahun lalu di salah satu universitas di Taiwan-dimana aku menimba ilmu sebelumnya- presentasiku mendapat apresiasi (baca: heboh) teman-teman sekelas yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Media, pornografi, dan anak merupakan ketiga unsur yang sangat berhubungan erat. Saat sekarang, dimana, informasi dan teknologi berkembang pesat di seluruh dunia, dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan, dari Sabang hingga Merauke. (lagi…)
Seorang temanku pernah berujar, “Wanita itu adalah orang yang paling merugi jika dia menikah karena dia akan mengalami banyak penderitaan. Jika tidak karena mengharapkan pahala dan surganya, mungkin, kebanyakan wanita memilih untuk tidak menikah..”. Subhanallah..
*** (lagi…)
Umurnya tidaklah muda lagi, tapi kiprah dan perjuangannya dalam mendidik anak luar biasa. Di tengah-tengah gegap gempita permasalahan rumah tangga dan anak yang banyak menimpa keluarga yang ada di Indonesia, beliau hadir bak mata air di gurun Sahara.

Suatu hari di suatu kelas kursus bahasa Inggris yang kuikuti, Mr. Chris berkata bahwa setiap orang memiliki simbol dalam hidupnya yang menunjukkan status sosial orang tersebut di hadapan orang lain, termasuk orang Inggris. Orang Inggris memiliki simbol sebagai status sosial, seperti liburan ke luar negeri, pakaian, dan mobil. Kalau di Hongkong, jam tangan seseorang akan menjadi simbol yang menunjukkan status sosial orang tersebut.

Ternyata, krisis ekonomi berdampak pada banyak hal. Salah satu pengaruhnya adalah masalah pengangguran. Berdasarkan laporan BBC ternyata jumlah pengangguran di UK meningkat pesat (131,000 pada bulan Sept-Nov 2008).