Berdasarkan hasil perhitungan surat suara di TPS KBRI London, Partai Demokrat memperoleh suara terbanyak (65 suara), disusul Partai Keadilan Sejahtera (20 suara), Partai Golkar (16 suara) serta PDIP dan PAN (9 suara).
Pemilu di Inggris saya katakan kacau dan kurang profesional. Mengapa? Pertama, data pemilih yang ada tidak akurat. Hal ini ditandai oleh banyaknya keluhan dari warga UK bahwa mereka belum menerima surat suara sampai dengan hari H pencontrengan (9 April). Padahal mereka telah mendaftarkan namanya sebelumnya, bahkan sudah mengkonfirm kembali kepada panitia pemilu (panpel). (lagi…)
Tanggal 9 April minggu lalu adalah hari yang cukup penting (bagiku) karena hari tersebut akan menentukan masa depan Indonesia ke depan. Setiap warga negara Indonesia, baik yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri, berhak untuk mencoblos eh mencontreng para wakilnya sebagai calon legislatif di DPR.
Hiruk-pikuk pesta demokrasi lima tahunan tengah berlangsung sejak beberapa bulan lewat hingga sekarang. Pemilihan umum (pemilu) legislatif, yang akan memilih perwakilan di tingkat pusat (DPR-RI), tingkat propinsi (DPRD Provinsi), tingkat kabupaten/kota (DPRD Kabupaten/Kota), dan memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), akan dilaksanakan serentak pada tanggal 9 April di seluruh penjuru Indonesia dan juga luar negeri yang ada masyarakat Indonesianya.
Baru-baru ini, Indonesia gempar dengan kasus yang menimpa salah seorang politisi dewan pemerintahan yang terjerat dengan kasus suap. Hal yang menarik lagi adalah dalam penggebrekan kasus tersebut di sebuah hotel berbintang di Jakarta, selain sejumlah uang yang tidak kecil nilainya, ditemukan juga seorang wanita muda nan cantik bersamanya. Entah apakah dia bagian dari gratifikasi yang akan diberikan kepada pejabat negara tersebut ataukah apa. Namun yang jelas kasus ini menambah deretan angka-angka kebobrokan para anggota dewan yang terhormat yang seharusnya memperjuangkan aspirasi rakyat karena memang dipilih oleh rakyat sendiri sebelumnya.