Mungkin sebagian kita sudah pernah membaca kisah pidato seorang pendiri Apple dan pendiri Mac, Steve Jobs, pada sebuah wisuda di Stanford University. Pada edisi kali ini saya ingin mengupasnya kembali untuk menumbuhkan semangat pada saya secara pribadi dan juga memberikan inspirasi teman-teman, khususnya mereka yang baru saja selesai dari jenjang pendidikan yang ditempuh.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Steve Jobs tidak pernah lulus dari kuliahnya karena masalah klasik, persoalan ekonomi keluarga. Ia bukanlah berasal dari keluarga kaya raya sehingga orang tuanya tidak mampu memberikan biaya kuliah untuknya. Namun, hal tersebut tidak menjadikannya berputus asa dan penghalang baginya untuk mencari ilmu, berprestasi dan menghasilkan karya nyata.
Ada tiga hal besar dari pengalaman hidupnya yang sangat berpengaruh terhadap kehidupannya. Pertama, hidup adalah rangkaian dari perjalanan kita di masa lalu, sekarang, dan akan datang. Rangkaian hidup kita di masa mendatang sebenarnya merupakan refleksi dari apa yang sesungguhnya pernah kita alami dan lakukan di masa lalu (menghubungkan titik-titik). Ketika kita ingin membuat rencana besar hidup di masa yang akan datang maka hendaknya kita merenung ke belakang terhadap apa yang telah kita lakukan. Hidup seseorang sesungguhnya tidak terlepas dari takdir Ilahi. Namun, kita tidak bisa terlepas dari sejarah masa lalu. Masa lalu bisa dijadikan pijakan dan refleksi untuk membuat rencana-rencana besar dan keputusan-keputusan di masa yang akan datang.
Kedua adalah, jangan pernah berputus asa untuk menemukan sebuah nilai terhadap sesuatu (cinta dan kehilangan). Kita harus mencari sesuatu yang benar-benar kita sukai sehingga tidak ada rasa keterpaksaan di dalam menjalankannya. Jika kita melakukan sesuatu yang kita sukai dan cintai maka hal tersebut akan menyebabkan kepuasan batin sehingga pekerjaan tersebut dapat dilakukan sungguh-sungguh dan hasilnya baik.
Ketiga adalah, dalam hidup kita dituntut untuk mampu membuat keputusan besar karena pada suatu saat setiap manusia akan menemukan takdir kematian yang tidak seorang pun dapat memprediksi dan mengkalkulasinya sekalipun dengan teorema matematika yang canggih (mengingat kematian). Dalam ceritanya, ia mengisahkan bahwa ia pernah divonis terkena penyakit tumor pankreas. Namun, vonis tersebut tidak membuatnya terlarut dalam sedih. Pasrah, namun tidak membuatnya berkecil hati dan berputus asa. Sesungguhnya, Steve Jobs ingin menyampaikan pesan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti dan setiap orang akan menemuinya walaupun orang tersebut tidak menginginkannya sekalipun. Manusia hidup di dunia dibatasi waktu yang sangat terbatas sehingga hidup harus terus bermakna dan dijalankan dengan baik. Segala keputusan di dalam menjalani hidup dan kehidupan sesungguhnya ada di tangan setiap individu, bukan pada orang lain. Segala sesuatu hendaknya berdasarkan hati nurani yang terdalam.
Lanjutnya, dalam hidup hendaknya kita tidak merasa puas terhadap keberhasilan yang kita lakukan. “Stay hungry. Stay foolish.” Dua kalimat inilah yang kemudian memberikan inspirasi besar kepada Steve Jobs untuk kemudian melakukan perubahan terhadap jalan hidupnya. Dua kalimat tersebut didapatkannya dari sebuah buku yang berjudul “The Whole Earth Catalog”, buah karya Steward Brand yang terkenal pada era 1970-an.
Kepada rekan-rekan yang baru dan telah melewati masa-masa kritis ujian, riset, tesis, lulus, dan akan/telah diwisuda, saya ucapkan selamat atas keberhasilannya. Sukses selalu untuk semua. Jangan pernah lelah berjuang dalam menciptakan karya-karya dan prestas-prestasi hidup..
ternyata emang manusia gak pernah puas…..sukses terus buat hensi…..bagus sekali..
hehe..gk puas dlm mencari ilmu n pngalaman sih gpp..hehe..
thx u doanya..
eniwei, ini sapa yakss?