
Menurut Bu Elly Rusman, kegagalan pendidikan terhadap anak adalah karena pola pengasuhan yang salah. Sama halnya dengan berkomunikasi dengan pasangan, seorang ibu atau ayah, harus memahami ‘bahasa’ yang dituturkan oleh sang anak. Seorang anak, apalagi sedang mengalami masa tumbuh (baca: remaja), biasanya menggunakan bahasa-bahasa ‘gaul’ yang hanya (biasanya) dipahami oleh kaumnya.Terkadang, anak-anak tanggung atau remaja menggunakan bahasa-bahasa simbol yang sulit dimengerti oleh kaum ‘tua’. Oleh sebab itu, orang tua hendaknya belajar mengenai hal ini juga agar dapat mengerti apa yang tengah terjadi dengan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya.
Beban yang terlalu banyak di sekolah, biasanya akan menyebabkan mereka suntuk dan bosan, sehingga kebanyakan memilih ‘pelarian’ dalam bentuk game, film, hang out ataupun hal lainnya, yang sifatnya dapat membuat mereka happy dan rileks. Orang tua, terkadang, melupakan (tidak tahu atau tak peduli?) hal ini. Anak akhirnya sering diomeli karena suatu kesalahan yang mereka perbuat. Memarahi anak sangat diperlukan apabila mereka telah melampaui batas, namun jika hal yang dilakukan orang tua hanya memarahi atau menghukum anak tanpa berusaha mendengar kemauan dan keinginan anak, maka yang terjadi anak biasanya tidak akan pernah mendengarkan perintah orang tua mereka karena bagi mereka orang tua menjadi persoalan kesekian yang menambah daftar masalah mereka.
Ketika anak pulang sekolah dan dalam keadaan suntuk, cobalah untuk memulai dengan menanyakan keadaannya. Dari sini, anak akan bercerita tentang hal yang dialaminya di sekolah ketika bersama guru dan teman-temannya. Anak, apalagi yang menginjak dewasa, biasanya ingin diposisikan sejajar dengan orang dewasa, sehingga bahasa yang digunakan adalah sharing, bukan bentakan atau tuduhan.
Seringkali, orang tua, menggunakan kata-kata yang kurang (tidak) tepat melalui bahasa verbal kepada anak-anaknya karena tidak memahami bahasa ‘tubuh’ yang diungkapkan mereka, sehingga anak-anak tidak merasa nyaman ketika bersama orang tua mereka. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar (sambil membanting pintu), bermain komputer game atau internet game, tanpa pengawasan orang tua yang akibatnya terjadi penyalahgunaan terhadap informasi dan teknologi tersebut. Pelarian lain anak-anak adalah lingkungan, pola pergaulan yang salah dalam memilih teman.
“Dua puluh persen, sifat seorang anak tergantung kepada turunan, dan sisanya, delapan pulu persen, adalah karena faktor lingkungan”, demikian penjelasan Bu Elly. Jadi wajar jika kedua orang tuanya baik-baik saja, tetapi anak-anaknya tidak beres karena lingkungan dan pola pergaulan yang terjadi di sekitar mereka. Maka, hendaknya orang tua mengubah gaya di dalam mendidik dan mengasuk anak-anak mereka. Memberikan fasilitas lengkap agar anak bahagia bukanlah solusi yang tepat karena bisa jadi fasilitas tersebut akan menjadi senjata yang akan menjerumuskan anak ke perbuatan negatif.
Pendidikan moral berupa basis agama, keterbukaan dan kasih sayang adalah faktor yang sangat penting dalam mengarahkan anak agar menjadi baik. Orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Maka, sebelum memberitahu sesuatu kepada anak, orang tua sebaiknya memberi contoh yang baik terlebih dahulu kepada mereka sehingga orang tua bisa menjadi cermin dalam kehidupan sehari-harinya.
Tugas mengasuh, merawat, dan mendidik anak adalah tanggung jawab para orang tua dan kita bersama. Tugas ini berat karena anak-anak kelak akan menjadi agent of change dan iron stock di masyarakat kelak. Mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita keluaga, masyarakat, dan negara.
*Tulisan ini dibuat berdasarkan pelatihan dua hari oleh Bu Elly Rusman yang diadakan pada tanggal 18-19 April dalam acara KIBAR Gathering di London.
Subhanallah adikku Hensi..bagus sekali rangkuman karyamu ini. Bangga dan salaut saya punya adik cerdas dan bisa di espressikan lewat tulisan. Maju terus ya.. Sayang kita engga sempat kenalan lebih akrab waktu di gathering. Kalau ke London (tinggal di utara khan?) ayuu minap dirumah. Ditunggu…ntar teteh baca deh tulisan lainnya. I am so proud of you. Wassalam
Komentar oleh Teteh — April 24, 2009 @ 8:59 AM
makasih teteh..
saya masih harus belajar teh, esp from teteh yg byk ilmu n pengalamannya..
luv u
Komentar oleh hensi — April 24, 2009 @ 2:28 PM