
Menurut Bu Elly Rusman, kegagalan pendidikan terhadap anak adalah karena pola pengasuhan yang salah. Sama halnya dengan berkomunikasi dengan pasangan, seorang ibu atau ayah, harus memahami ‘bahasa’ yang dituturkan oleh sang anak. Seorang anak, apalagi sedang mengalami masa tumbuh (baca: remaja), biasanya menggunakan bahasa-bahasa ‘gaul’ yang hanya (biasanya) dipahami oleh kaumnya. (lagi…)
Hal yang kedua menurut beliau adalah touch atau sentuhan. Sentuhan adalah ungkapan atau ekspresi kasih sayang seseorang terhadap orang lain. Bahasa ’sentuhan’ pula yang akhirnya mengilhami para ahli teknologi untuk menciptakan produk ’sentuhan’ yang hasil akhirnya dapat kita nikmati bersama, seperti touch screen, iPod touch, touch camera, dan touch handphone.
Seorang temanku pernah berujar, “Wanita itu adalah orang yang paling merugi jika dia menikah karena dia akan mengalami banyak penderitaan. Jika tidak karena mengharapkan pahala dan surganya, mungkin, kebanyakan wanita memilih untuk tidak menikah..”. Subhanallah..
*** (lagi…)
“Man’s from Mars, while woman’s from Venus”
Umurnya tidaklah muda lagi, tapi kiprah dan perjuangannya dalam mendidik anak luar biasa. Di tengah-tengah gegap gempita permasalahan rumah tangga dan anak yang banyak menimpa keluarga yang ada di Indonesia, beliau hadir bak mata air di gurun Sahara.

Tanggal 17 April yang lalu adalah hari ulang tahun keponakanku, Safa. Tahun lalu umurnya baru dua tahun dan sekarang sudah genap tiga tahun. Anaknya cantik, lucu cerdas, dan kadang menggemaskan. Umur dua tahun sudah lincah berlari ke sana ke mari, bahkan memanjat tangga di rumahku, membuat ibuku, ibunya, dan kami semua khawatir sangat. Makanya tak heran kalau pagar di rumah tidak pernah tidak dikunci dan tangga di rumah selalu dijaga agar dia tidak naik atau turun sendiri.