
Suatu hari di suatu kelas kursus bahasa Inggris yang kuikuti, Mr. Chris berkata bahwa setiap orang memiliki simbol dalam hidupnya yang menunjukkan status sosial orang tersebut di hadapan orang lain, termasuk orang Inggris. Orang Inggris memiliki simbol sebagai status sosial, seperti liburan ke luar negeri, pakaian, dan mobil. Kalau di Hongkong, jam tangan seseorang akan menjadi simbol yang menunjukkan status sosial orang tersebut.
Lantas, ia bertanya kepada kami, “What is symbol of status social in your country?”
Temanku yang sama-sama berasal dari Indonesia menjawab, “Job and salary”.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir memang setiap orang memiliki simbol dalam hidupnya yang menunjukkan derajat atau status dia di hadapan orang lain. Hampir sama sih karena simbol status sosial seseorang itu diwujudkan dalam bentuk fisik, seperti mobil, pakaian, dan lain-lain.
Aku jadi teringat seorang temanku yang baru membeli sebuah sedan mercedez berwarna hitam. “This is cheap”, katanya. Bagi temanku harga sebuah sedan second hand sebesar £3,000 masih tergolong murah, apalagi jika dibandingkan dengan harga sedan di negaranya. Di Indonesia saja mercedez termasuk barang ‘wah’ sekali.
Begitulah, simbol bagi sebagian orang memang sangat penting karena ia adala bagian dari status dia di masyarakat. Privilege menjadi hal yang sangat diperhitungkan jika berhadapan dengan banyak orang. Tapi, kalau menilik konsep Islam, status sosial seseorang ditunjukkan oleh derajat ketakwaan seseorang; seberapa besar kedekatan dia dengan Sang Maha Khalik.