see the world with mind and heart..

Krisis global dan gaya hidup orang Inggris | Maret 26, 2009

dsc011921
Ini ada tulisan teman saya yang sangat menarik, Mbak Rani-yang sangat jago masak dan juga menulis, jadi buat iri terkadang..hehe..Oya, tulisan-tulisan ringannya bisa disimak di blog ini ‘Rumah Kecil‘- tentang dampak dari krisis global dan gaya hidup orang Inggris yang agak ‘high’.
Kenapa menarik? Karena tulisan ini jadi membuka wawasan kita ternyata sebenarnya kemewahan dan segalanya tidaklah kekal. Tulisan ini juga sudah diterbitkan di salah satu media terkenal di Indonesia, Jawa Post. At least, jadi tahulah sebenarnya gaya hidup orang-orang Inggris tersebut. Meskipun baru beberapa bulan saja tinggal di Inggris, aura itu memang terasa pas pertama kali menginjakkan kaki disini. Apa karena situasi yang serba mahal dengan tukar mata uang termahal di dunia? Hehe..begitulah akhirnya menuntut diri untuk pandai-pandai menghemat diri.
Silahkan menikmati tulisan di bawah.
Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris (1)
Pindah Pasar Swalayanmu, Bukan Gaya Hidupmu
Warga Inggris dulu dikenal sangat menjaga gengsi dan prestise ketika memilih tempat belanja yang sesuai dengan status sosial mereka. Namun, krisis finansial yang hingga kini belum diketahui kapan berakhir telah mengubah segalanya.
NURANI SUSILO, London
Bangunannya lebih kecil dibandingkan dengan supermarket yang lain. Lampu dan hiasannya pun tak terlalu gemerlap, begitu pula catnya yang kelam. Bukan hanya itu, tempatnya pun biasanya hanya di pojok pusat perbelanjaan. Tidak heran, sampai beberapa bulan lalu hanya sebagian kecil warga Inggris yang tertarik berbelanja di tempat itu.
“Poor food for poor people” (Makanan murahan untuk warga kelas bawah), begitu pandangan umum di Inggris kepada Aldi dan Lidl, dua supermarket murah di Inggris yang dari sisi penampilan adalah si buruk rupa dalam dongeng Beauty and the Beast. Terutama jika dibandingkan dengan supermarket besar: Waitrose, Sainsbury, Tesco, ASDA, dan Morrison.
Ini adalah Inggris, negara tempat kelas sosial tidak hanya dilihat dari perbedaan cara bicara, perbedaan kode pos tempat tinggal, namun juga pada tempat dia berbelanja kebutuhan sehari-hari. Miliuner akan berbelanja di Harrods Food Hall, para eksekutif bakal berbelanja di Waitrose, kelas menengah akan berbelanja di Sainsbury dan Tesco, menengah bawah memilih ASDA atau Morrison, dan poor people bakal berbelanja di Aldi dan Lidl.
”Saya merasa harus mencuci tangan begitu keluar dari supermarket itu,” demikian salah satu kutipan dari warga Inggris di sebuah surat kabar sekitar tahun lalu, ketika ditanya apakah dia pernah berbelanja di Lidl. Saya masih ingat komentar itu karena saat itu kaget dengan arogansi orang Inggris atau yang sering disebut sebagai snobbish. ”I wouldn’t touch their meat/fish/cheese with the bargepole (Saya tidak akan memegang daging/ikan/keju mereka, meskipun dengan tongkat panjang),” komentar lain yang biasa didengar di Inggris.
Namun, seperti juga tidak ada yang menyangka bahwa perbankan Amerika dan Inggris akan kolaps, warga Inggris pun tidak pernah membayangkan krisis ekonomi atau credit crunch -istilah yang populer di Inggris- membuat mereka harus melupakan kelas sosial dalam hal berbelanja. Mereka terpukul oleh naiknya harga berbagai barang kebutuhan pokok, sementara penghasilan tetap (bahkan turun).

& Komentar »

  1. sangat membuka wawasan, lanjut gan!

    Komentar oleh aing — April 16, 2009 @ 10:27 PM

    • ok aing..thx ud mampir..
      met mnikmati sajian yg ada..

      Komentar oleh hensi — April 24, 2009 @ 2:29 PM

  2. banyak orang memanjakan hidup berdasarkan keinginan bukan kebutuhan soalnya…

    Komentar oleh isrifianty — Agustus 13, 2009 @ 9:22 AM


Ada yang ingin disampaikan? RSS Komentar URI Lacak Balik