Akhirnya selesai juga pindahan rumah. Usung-usung ‘barang’ dari rumah lama yang di jalan catatanharianhensi.blogspot.com pindah ke jalan hensi.wordpress.com. Hehe..Ternyata, pindah rumah capek juga ya, angkat sini, angkat sana, taruh sini, taruh sana..huhh..capek.
Entah kesialan apa yang tengah bersinggah dalam hidupku kali ini. Kali ini, untuk yang kesekian kalinya sepedaku hilang setelah handphone Nokia kesayanganku hilang beberapa waktu yang lalu. Handphone tersebut tak sengaja tertinggal di Research Room pada suatu malam ketika aku sedang sibuk menghiasi blog-blogku dengan berbagai pernik. Aku ingat betul, handphone tersebut ku charge tepat di sebelah komputer PC yang sedang kugunakan. Namun, ketika kukembali lagi untuk mengambilnya. Ternyata, benda kesayanganku tersebut telah raib bersama chargernya.
(lagi…)
Tak ada yang spesial hari ini. Tapi, hari ini mengingatkanku akan sosok bernama ibu. Ya, hari ini adalah hari Ibu di Taiwan. Berbagai aktivitas digelar di kampusku untuk memperingati hari ibu. Bahkan, acara kirim kartu pos gratis dan telpon gratis ke kampung halaman (baca: negara masing-masing) pun diadakan hanya untuk say hello to mom. Acara ini digelar di depan dormitory dan setiap mahasiswa boleh menelpon ibunya selama tiga menit lamanya. Tiga menit memang waktu yang cukup singkat untuk berkangen-kangen ria dengan ibu. Tapi, tiga menit pun cukup berarti untuk mendengar suara ibu di seberang sana. Sebagai mahasiswa internasional yang jauh dari rumah dan kampung halaman tercinta, tentunya ada kerinduan tersendiri untuk bertemu dan bercengkerama dengan keluarga, terutama ibunda tercinta.
Aku memang lebih memilih berjalan kaki daripada bersepeda bila hendak bepergian ke manapun, kecuali tempatnya agak jauh. Berjalan kaki memang sangat menyenangkan, di samping menyehatkan karena saraf motorik yang berada di telapak kaki dipaksa untuk bekerja. Hal ini tentunya sangat baik sekali bagi peregangan otot-otot dan melancarkan peredaran darah di dalam otak sehingga bisa dialirkan ke seluruh tubuh.
Dua hari yang lalu temanku memberiku saran, setelah dia mengetahui aku kehilangan sepeda, untuk mencari sepedaku di sekitar parkiran yang ada. Akhirnya aku pun terdorong untuk mencari kembali sepedaku yang salah parkir tersebut. Menurutnya, temannya pernah kehilangan sepeda juga di hari yang sama denganku. Tapi kemudian dia menemukannya di parkiran tepat di depan parkiran IMBA. Mungkin, dewi sri lagi berpihak padanya, pikirku.
Suatu hari ketika aku hendak pulang ke asrama setelah seharian berada di research room, aku mencari-cari sepedaku. Tidak kutemukan batang hidungnya sedikitpun. Aku ingat betul bahwa aku memarkir sepedaku itu tepat di depan IMBA. Kucari-cari lagi, mungkin saja aku lupa memarkirnya. Tapi, koq tidak kutemukan juga ya? (lagi…)
