see the world with mind and heart..

Rasa rahim | Maret 22, 2009

Oleh : Miranda Risang Ayu
Sebuah legenda filosofis menyatakan bahwa seorang bayi hakikatnya lahir dan menangis lantaran terpisah dari pelukan rahim. Seorang manusia lahir tidak hanya membawa hak-hak asasinya yang tidak bisa diganggu-gugat untuk hidup dan mencapai kebahagiaan, tetapi juga membawa dukanya yang pertama.
Dan duka itu menjadi kawannya. Sekudus apa pun tidurnya, tetap saja, ketika seorang bayi merasa basah, kedinginan, kesepian, atau tidak enak badan, ia akan menangis. Bayi memang tidak perlu diajari untuk bisa menangis.
Manusia tampaknya juga tidak perlu bersekolah untuk bersedih, tetapi ia perlu belajar dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan mencapai kebahagiaan. Hidup ini memang dibayangi kemurungan, tetapi arti hidup adalah untuk mencerahkannya.
Jadi, adalah natural bahwa tidak ada seorang pun yang mau hidup hanya untuk memperbesar kedukaannya. Tuhan tampaknya juga tidak mau membuat kehidupan hanya bermakna absurd karena makhluk sasaran pandangannya itu hanya diciptakan untuk menghabiskan umurnya berlari menghambur ke dalam kemurungan tanpa ujung, dan mati sia-sia.
Dan ketika ternyata, kelahiran dan kehidupan memang tidak pernah menjadi sebuah pilihan, tetapi kenyataan yang mesti dihadapi, adalah keharusan juga untuk belajar menghindari penderitaan.
Hidup, karenanya, adalah negasi. Semakin seseorang dewasa, ia pun semakin belajar kompleksitas menegasi atau menolak penderitaannya. Penderitaan fisik ditolak dengan upaya sistematis untuk belajar, baik melalui komunikasinya dengan keluarga, tetangga, hingga komunikasi dengan ilmu di bangku pendidikan formal.
Tetapi, penderitaan spiritual ditolak dengan cara yang berbeda. Para arif percaya bahwa penderitaan spiritual juga berakar dari keterpisahan seseorang dengan rahim ibu, karena dari padanyalah seorang jabang bayi bisa merasakan transmisi sifat rahimiah Ilahi yang paling optimal.
Karenanya, untuk menghindari penderitaan spiritual, secara sadar, seseorang harus mengerahkan upaya untuk kembali kepada ”rasa rahim”.
Anda ingat ketika Anda berada di dalam rahim ibu? Sungguh sayang bahwa saya termasuk orang yang tidak bisa, atau setidaknya, belum bisa sungguh-sungguh mengingatnya. Tetapi konon, rasa itu bisa didapat dengan laku negasi atau laku penolakan dunia, yang disadari.
Note: Maklumlah pengagum tulisan-tulisan Miranda, terutama kalau pas baca Harian Umum Republika (pas dulu jaman kuliah di Yogya), pasti yang kucari adalah pojokan resonansi. Kalo ada dari Miranda, pasti tak gunting tuh koran. Maklum aja ya teman-teman kalo dulu sering liat tuh koran di meja bolong-bolong cz tak koleksi..
Ini tulisan sebenarnya berada di catatanharianhensi, namun karena sesuatu n lain hal terpaksa kupindah juga..

Ditulis dalam Filosofi

1 Komentar »

  1. Untuk membaca tulisan-tulisan Miranda Risang Ayu lainnya, silakan kunjungi blog Pojok Kanayakan, http://pojok-kanayakan.net

    Komentar oleh hensi — Maret 22, 2009 @ 11:24 PM


Ada yang ingin disampaikan? RSS Komentar URI Lacak Balik